Hari Pertama

mulai hari ini, Senin 15 Oktober 2012 sah sudah Studi Lapangan di DPPKA Pemprop Jogja. Baru juga sampe sini kemaren subuh, berangkat dengan kereta malam dari Gambir. Pertama kali naik kreta untuk perjalanan jauh, gambaran awalnya sih bakalan seru kayak yang diceritain novel-novel, singgah dibeberapa stasiun, liatin sejumlah pedagang yang hilir mudik kereta, duduk di persambungan gerbong kereta dengan tiupan angin sambil liatin sawah kiri kanan, narsis-narsisan. Nyatanya?? cuma tidur semalaman, selimut yang diberikan awak kereta sedikit mengurangi dinginnya gerbong eksekutive itu.

Berangkat dari Bintaro emang sudah direncanakan beberapa hari sebelumnya, Bahar dan Budi sudah deal ikut naek kereta asalkan nggak ngambil jadwal pagi. Ternyata Ula juga ikut serta rombongan kami karna Klaten -tujuan Studi Lapangannya- tak jauh dari jogja. Jadilah 4 mahasiswa tingkat akhir ini berangkat menuju kota ramah berhati nyaman, Yogyakarta.

Sesampenya di Stasiun Tugu, kami dijemput sepupunya Budi, mas Fitri (panjangnya Fitrianto :P ), mas Fitri langsung menawarkan naek becak ato taxi, karna ternyata bawaan kami banyak diputuskan naek taxi. Kirain  taxinya kayak sedan biasa, teryata sebuah kijang, kalo dijakarta ini dinamakan taxi gelap. Wiih kalo saja taxi gelap dijakarta harganya segini, dijamin bakalan gak laku tuh taxi ber-argo dan ber-merk lainnya, karna jasa angkut dari stasiun tugu sampe rumah cuma dibalas dengan selembar uang dua puluh ribu rupiah doang.

Setelah bersilaturrahmi sebentar dan disuguhi sarapan di rumah mas Fitri, kami akhirnya dianter ke homestay (biar istilah kost-kostannya keren) di daerah Keparaan Kidul. Cukup sederhana dengan 2 tempat tidur, yang satunya ukuran doble. Lantainya adem, sayang hawanya sedikit panas. Syukurnya persediaan air segarnya sangat berlimpah. like this.

Jadwal utama sesampenya di jogja sih cuma mencari kost, lengkapi kebutuhan harian, dan cari tau alamat Pemprop Jogja. Untuk yang pertama sih sudah langsung dapet, Ula juga langsung pamit buat cari kost di Klaten, sedang kami bertiga meneruskan dua rencana lainnya. Ternyata DPPKA pemprop Jogja tak begitu jauh, hanya sekali naik bus, kami sampe hanya dengan waktu tempuh tak lebih dari 7 menit, cuma kostnya aja yang jauh dari jalan raya. Kesan pertama tak begitu mulus, kami diteriaki satpol PP saat mau memasuki halaman kepatihan, di semprit pake pripitan kayak wasit Liga Inggris mau ngasih kartu merah. Sial, sudah menjauh pun tatapan bengisnya tak lepas dari kami, merasa kayak pencuri ayam yang ketahuana aja sih. Mungkin karna si Bahar sama Budi pake celana pendek apa ya, dengan tampang kucel kami yang belum mandi kayaknya jadi perpaduan yang cukup membuat tu bapak bikin kesimpulan negatip.

Cari makan di kawasan homestay kami ternyata nggak mudah, kayaknya karena ini cuma kawasan pemukiman biasa, gak ada kampus ya gak ada kost-kostan mahasiswa dan kesimpulannya gak ada jualan makanan kaki lima, sari laut, penyet-penyetan dan sebagainya. Untuk makan kami mesti pinjam motor sodara Budi, bisa 5 menit untuk mencapai kawasan kampus UII.

Kembali ke hari ini. Sudah sejak pagi kami rapi dengan kemeja putih dan bawahan gelap. Sarapan segelas teh manis dengan roti marri regal. Berharap kesan pertama kami bisa mempermudah urusan-urusan selanjutnya. Kata orang sih orang jawa tu "mendem jero", meski ndak terlalu percaya sih tapi ya ndak ada salahnya berjaga-jaga.

Sesampe di Sekretariat kami disuruh menunggu sebentar, yang kemudian di pertemukan dengan Kabag Akuntansi-nya. Lupa namanya, karna cuma diarahkan sebentar, kemudian kami diperkenalkan dengan mas Dodi dan Doni. Mas Dodi ternyata sangat welcome, orangnya supel dan suka cerita. Beliau juga cerita kalo amarhum Ayahandanya pensiunan pegawai BPKP yang juga alumni IIK, alias STAN-nya jaman dulu, dengan kata lain satu almamater dengan kami.

Kesan hari pertama ternyata tak begitu spesial, kerja disini tak jauh beda ternyata dengan KPPN, bahkan pegawainya wajib pake baju warna biru, persis sama kayak pegawai Pajak. Jam 10 kami sudah merasa kelaperan, ternyata ganjelan roti tak cukup buat hari ini. Suatu waktu ada pedagang makanan masuk, keliling menawarkan jajaanya ke setiap pagawai diruangan ini, tapi pas skalianya lewat didepan kita-kita, tak bergeming, si Budi mendengus, dikiranya kita-kita tak mampu beli apa ya, haahahaha

do'a istikharah :)

“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat kepadaMu dengan ilmu pengetahuanMu dan aku mohon kekuasaanMu (untuk mengatasi persoalanku) dengan kemahakuasaanMu. Aku mohon kepadaMu sesuatu dari anugerahMu Yang Maha Agung, sesungguhnya Engkau Mahakuasa, sedang aku tidak kuasa, Engkau mengetahui, sedang aku tidak mengetahuinya dan Engkau adalah Maha Mengetahui hal yang ghaib. Ya Allah, apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini  lebih baik dalam agamaku, dan akibatnya terhadap diriku"

"di dunia atau akhirat, sukseskanlah untukku, mudahkan jalannya, kemudian berilah berkah. Akan tetapi apabila Engkau mengetahui bahwa persoalan ini lebih berbahaya bagiku dalam agama, perekonomian dan akibatnya kepada diriku, maka singkirkan persoalan tersebut, dan jauhkan aku daripadanya, takdirkan kebaikan untukku di mana saja kebaikan itu berada, kemudian berilah kerelaanMu kepadaku.”

Be real ya !!

Suatu perkenalan tanpa pertemuan, bukan suatu hal yang aneh lagi di zaman teknologi informasi seperti sekarang ini. Seseorang bahkan bisa menyapa seorang lainnya yang berada dibelahan bumi yang lain, pun dengan hari berbeda secara real time. Banyak media dan jaringan yang bisa dimanfaatkan, entah itu telepon genggam, tab, notebook, PC dan sebagainya.

Senang rasanya saya bisa hidup di dunia yang saya nikmati ini, saya bersyukur merupakan bagian dari perubahan. Ingat dulu waktu masih usia SMP, pertama kali jaringan telepon dipasang dirumah, ama merogoh kocek sebesar tiga ratus ribu, ketika itu uang sejumlah itu terasa cukup besar. Namum itu semua agar kita menghubungi sanak saudara jauh, yang tak bisa dijejal dengan hanya motor grand astrea ketika itu. Namun terlebih lagi, telepon itu dipasang untuk kami sekeluarga bisa menghubungi apa yang bekerja di pulau seberang dan abang yang di negeri Jiran. Ketika itu nomornya 322-602, jangan ditelpon ya, sekarang sudah diputus, karena smua pada menggunakan telepon seluler.

Kemajuan teknologi begitu pesat saya rasakan ketika saya mencoba peruntungan dan pendidikan di kota sebesar Palembang. Saya mengenal internet dari teman, walau hanya sekedar melihat. Telepon genggam, atau Handphone bukan barang langka lagi, namun tetap benda exclusive dimata saya ketika itu. Tidak jarang melihat teman yang gonta-ganti HP, terlebih mereka yang memang mampu membelinya. Merk terbaru, model terbaru dan entah apa lagi alasannya, namun saya tak peduli. Yang terpenting saya masih bisa menghubungi keluarga di kampung melalui wartel. Wartel Sagito Sakat, itulah nama wartel yang saban pagi sebelum jam enam sering saya kunjungi, karena terif diatas jam 6 pagi akan berlaku premium. Dengan demikian aku tetap terbiasa bangun pagi, rutin ke wartel sampe yang punya jadi temen akrab hingga sekarang.

Suatu ketika saat kelas dua SMA, saya dapat kiriman dari abang, dari Johor Malaysia, tak disangka isinya sebuah jam tangan, dompet dan sebuah Handphone. Handphone pertama Nokia 3100, HP polyponic yang simple berwana orange dengan tombol abc def. Ketika itu teman-teman sudah pada mengenal hp berwarna, tidak monocrome seperti yang saya punya. Bahkan ada yang dilengkapi camera dan video player. Its OK. toh dengan 3100 saya sudah sangat senang.

Menjelang akhir SMA, saya baru ikut-ikutan ngegandrungi dunia maya. Friendster, situs pertama yang saya kenal dari teman. Cukup menarik, dan bikin sedikit ketagihan. MIRc sebenarnya sudah saya kenal terlebih dahulu, namun saya tidak begitu tahu penggunaanya ketika itu, bagaimana cari teman, joint grup ato apalah, karena memang tak ada yang mengajari.

Dijaman sekarang ini, hal sedemikian semua sudah pada mobile. Situs dan jejaring sosial dapat di akses hanya dengan telepon genggam. Melakukan transaksi dan teleconverence pun bukan hal yang exclusive lagi.
Rasanya dunia itu tidak terlalu luas, semua ada dihadapan. Cuma lagi, bagaimana kita memanfaatkannya dengan pintar dan bijak.


Kost Poconk 11 Juli 2012 12:56 Waktu Indonesia Bagiang Bintaro

Bersyukurlah, maka Dia akan berikan lebih

Alhamdulillah...
Kalimat itu yang harus kita ucapkan tatkala kita harus bersyukur. Bersyukur atas nikmat yang telah diberikanNya.
...bersyukur atas umur yang masih diizinkan.
...bersyukur atas rizqi yang telah diberikan.
...bersyukur atas ilmu yang diberitahukan.
tak cukup blog ini tuk menuliskan keseluruhan atas nikmat dariNya.

dan aku bersyukur bisa mengenalnya untuk 10 hari ini  :)
alhamdulillah ...


kost Poconk 08 July 2012 11:54 PM

Audit Kinerja SKS

SKS alias Sistem Kebut Semalam, mendarah daging beranak pinak, becucung becicit, hahahahaha
dasar mahasiswa pemalas, baco buku man la nak ujian be, man la disuruh be, man la diultimatum be, kapan nak bener. :D
tapi yang ini ku buat bukannyo la lamo, emang baru disuruh senin, dan rabu pagi dah mesti presentasi, aiiisssh

selamat menikmati be lah






kost poconk 20 Juni 2012, 05:50 AM

Monyet Juga Manusia @@? (temporary)

There's an answer
If you reach into your soul
And the sorrow that you know
Will melt away

Lagu galau anak mudo, tapi ntah lah untuk aku mak ini, Lanang 26 th jomblo, haks. Lagu tante tu mbikin semangat seharusnyo, "And you know you can surviveSo when you feel like hope is gone Look inside you and be strong" tapi penggalan kalimat pertamonyo jangan dimakan mentah-mentah. Cetek sih cetek, tapi salah kalo diartike survive dengan status jomblo :D

Kurang apo cobo aku ni, Lanang keren, baek, original (ndeso), shaleh (ups..), siapmenafkahi lahir bathin -___-".  Hahahahahaha.... (kalimat ini akan diedit dalam waktu yang tidak dapat ditetntukan).

Yaaah,, apapu itu, aku cuma lagi menikmati lagu, dari sekian panjang liriknyo cuma ngerti secuil, maklum toufl masih kalah samo tukang becak Malioboro.  Makonyo lebih senang lagu ciptaan Papa T. Bob, lebih mudah dicerna.



Kost Pocong 28 Mei 2012 01:40 WIB

hidup ini indah teman

hidup itu indah teman


Kalimat yang sering aku lihat dari postingan status di pesbuk seorang teman (biasanya ada tambahan TM, penting gak sih :D ), rutin, sama, dan konsisten tiap hari. Ntah apalah arti baginya, cuma dia dan "teman"-nya yang mungkin tau.


Seandainya aku tahu maksud kalimatnya itu tak kan ku bercanda dengan anggek, tidak pula ku menyalahkan air cucuran atap yang mengguyur sekujur badan, basah dari rambut hingga ke celana dalam.


hidup itu indah teman


Kalimat yang aku teriakkan pada orang yang ada didalam cermin itu. Dia seperti tidak mendengarku, buta,,, tuli,,, bisu,,. Padahal dia punya telinga, mata dan mulut....persis sama sepertiku. Berulang kali ku teriakkan, hasilnya sama. Diam, mukanya jelek, suram, lesu, seperti banyak yang melintas dipikirannya, kayak tokoh kartun sore hari yang kalo sedang diusilin makhluk super usil di bikini bottom.


Seandainya dia tau, bahwa dia yang begitu itu, tidak nyata. Cuma bayangan yang direfleksikan cahaya lampu buatan makhluk fana. Seandainya dia tahu cahaya yang sebenarnya, dia tidak perlu hidup didalam cermin.


hidup itu indah teman


Beberapa pemberitaan belakangan ini sungguh membuat hati pilu, mulai dari lingkup keluarga hingga dunia. Kenapa kok yang diekspos yang beginian? Kenapa yang dimunculkan hanya lara dan kesedihan? Kenapa dunia senista ini? Kenapa orang-orang suka yang beginian? Kemana orang-orang baik yang dahulu diceritakan di dongeng-dongeng sebelum tidur? Tidak adakah kakek tua berbaju putih nan baik hati, atau bidadari kayangan yang turun memberkahi seantero kampung, atau bahkan Jin yang senantiasa memberikan tiga permintaan?


...sepertinya semua salah.
...sepertinya aku sedikit mengerti
...sepertinya ini hanyalah satu titik hitam diatas kertas, seandainya kau tuliskan kertas itupun sampai baris terakhir, bolak balik dan warna warni, tetap saja kertas itu kelihatan putih.


fabiayyiaala irabbikuma tukazziban


hidup ini indah teman, bersyukurlah :)






Tangerang (kost pocong) - 24 mei 2012 (03:34)