Suatu perkenalan tanpa pertemuan, bukan suatu hal yang aneh lagi di zaman teknologi informasi seperti sekarang ini. Seseorang bahkan bisa menyapa seorang lainnya yang berada dibelahan bumi yang lain, pun dengan hari berbeda secara real time. Banyak media dan jaringan yang bisa dimanfaatkan, entah itu telepon genggam, tab, notebook, PC dan sebagainya.
Senang rasanya saya bisa hidup di dunia yang saya nikmati ini, saya bersyukur merupakan bagian dari perubahan. Ingat dulu waktu masih usia SMP, pertama kali jaringan telepon dipasang dirumah, ama merogoh kocek sebesar tiga ratus ribu, ketika itu uang sejumlah itu terasa cukup besar. Namum itu semua agar kita menghubungi sanak saudara jauh, yang tak bisa dijejal dengan hanya motor grand astrea ketika itu. Namun terlebih lagi, telepon itu dipasang untuk kami sekeluarga bisa menghubungi apa yang bekerja di pulau seberang dan abang yang di negeri Jiran. Ketika itu nomornya 322-602, jangan ditelpon ya, sekarang sudah diputus, karena smua pada menggunakan telepon seluler.
Kemajuan teknologi begitu pesat saya rasakan ketika saya mencoba peruntungan dan pendidikan di kota sebesar Palembang. Saya mengenal internet dari teman, walau hanya sekedar melihat. Telepon genggam, atau Handphone bukan barang langka lagi, namun tetap benda exclusive dimata saya ketika itu. Tidak jarang melihat teman yang gonta-ganti HP, terlebih mereka yang memang mampu membelinya. Merk terbaru, model terbaru dan entah apa lagi alasannya, namun saya tak peduli. Yang terpenting saya masih bisa menghubungi keluarga di kampung melalui wartel. Wartel Sagito Sakat, itulah nama wartel yang saban pagi sebelum jam enam sering saya kunjungi, karena terif diatas jam 6 pagi akan berlaku premium. Dengan demikian aku tetap terbiasa bangun pagi, rutin ke wartel sampe yang punya jadi temen akrab hingga sekarang.
Suatu ketika saat kelas dua SMA, saya dapat kiriman dari abang, dari Johor Malaysia, tak disangka isinya sebuah jam tangan, dompet dan sebuah Handphone. Handphone pertama Nokia 3100, HP polyponic yang simple berwana orange dengan tombol abc def. Ketika itu teman-teman sudah pada mengenal hp berwarna, tidak monocrome seperti yang saya punya. Bahkan ada yang dilengkapi camera dan video player. Its OK. toh dengan 3100 saya sudah sangat senang.
Menjelang akhir SMA, saya baru ikut-ikutan ngegandrungi dunia maya. Friendster, situs pertama yang saya kenal dari teman. Cukup menarik, dan bikin sedikit ketagihan. MIRc sebenarnya sudah saya kenal terlebih dahulu, namun saya tidak begitu tahu penggunaanya ketika itu, bagaimana cari teman, joint grup ato apalah, karena memang tak ada yang mengajari.
Dijaman sekarang ini, hal sedemikian semua sudah pada mobile. Situs dan jejaring sosial dapat di akses hanya dengan telepon genggam. Melakukan transaksi dan teleconverence pun bukan hal yang exclusive lagi.
Rasanya dunia itu tidak terlalu luas, semua ada dihadapan. Cuma lagi, bagaimana kita memanfaatkannya dengan pintar dan bijak.
Kost Poconk 11 Juli 2012 12:56 Waktu Indonesia Bagiang Bintaro
Be real ya !!
d3Li | 00.56 | | 4 komentar
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
4 komentar:
hahahaha, yah dengan adanya gadget, itu membuat kita lebih socialize dan beruntungnya bisa jadi be romance...wkwkwkwkkw
Hahahahahaha
Itu nanti, kalo sudah keluar kata "merry me" :)
"merry"???? itu namo wong kak, "marry me" itu yang bener wkwkwkwkwkw
Wakakkakaka
Iyo ye, dak tau aku bahase jeme seberangnyo mak itu, kdengarannyo itu :D
Posting Komentar